Pernah perhatikan tulisan di mesin pom bensin ada tulisan "di tera ulang oleh badan xxx , Tanggal xxxx" . Biasanya juga kita bisa temui di beberapa alat ukur di perusahaan tempat kita bekerja, seperti caliper, timbangan, neraca, alat ukur digital dan masih banyak alat ukur lainnya. biasanya alat-alat ini di beri label khusus yang berisi informasi tanggal di kalibrasi, tanggal kalibrasi berikutnya dan dikalibrasi oleh siapa. Yang melakukan kalibrasi juga biasanya bukan sembarang orang, biasanya orang-orang yang sudah di training khusus untuk melakukannya, dan memang kompeten di bidang itu, jadi biasanya nama-nama yang tertera di label juga adalah nama-nama tertentu saja, atau bahkan orang-orang itu aja.
Biasanya juga alat-alat ini akan di kalibrasi ulang secara berkala dan terus menerus untuk memastikan bahwa alat ukur tersebut masih berfungsi dengan baik dan memastikan hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional atau standar internasional dan manfaat lainnya adalah untuk menemukan apakah ada deviasi atau penyimpangan nilai yang dihasilkan oleh alat ukur tersebut .
Mengapa perlu dipastikan? Bayangkan saja dalam sebuah mesin misalnya, penyimpangan 1 atau 2 mm aja bisa mengakibatkan tabrakan di mesin yang bergerak, atau kemiringan dalam bangunan bisa mempengaruhi kokoh nya bangunan itu. Contohnya lagi, perlu perhitungan berat yang benar supaya bisa membangun pondasi yang kokoh, dan masih banyak contoh lain nya. Oleh sebab itu alat ukurnya juga harus dipastikan menghasilkan nilai yang benar supaya produk yang dihasilkan juga benar dan dapat di gunakan dengan baik pula.
Demikian juga dengan hidup kita. Seringkali tanpa kita sadari, ada nilai-nilai yang lambat laun menyimpang dalam kehidupan kita, yang kalau kita biarkan nilai itu lambat laun makin besar. Kita menjadi terbiasa melakukan hal yang ga bener tanpa kita merasa bersalah melakukannya. Oleh karena itu, kita pun perlu dikalibrasi oleh Firman Tuhan dan orang-orang yang benar-benar menghidupi Firman Tuhan itu.
Karna kalau tidak, akan banyak hal-hal produk yang tidak benar yang keluar dari hidup kita. Contohnya, mungkin perkataan kita yang akan menyakiti orang disekitar kita, dan bisa jadi mempengaruhi sepanjang hidup orang tersebut. Atau bisa jadi karna produk yang tidak benar itu, waktu-waktu dalam hidup kita tidak terpakai dengan efisien, mungkin karna kita kebanyakan memikirkan hal-hal yang membuat kita kuatir, sehingga kita takut melangkah kedepan dan akhirnya tetap jalan di tempat. Atau tindakan kita melukai orang lain karna pandangan kita yang tidak benar, dan masih banyak contoh lainnya yang akan mempengaruhi orang lain atau diri kita sendiri.
Dalam hidup kita, penyimpangan itu berkemungkinan terjadi setiap saat. Jadi kalibrasinya pun dibutuhkan setiap saat karna kalau tidak, akan terlalu banyak "produk" yang ga bener tadi yang kita lakukan setiap hari. Jadi, saya semakin menyadari arti firman Tuhan di Ibrani 10:25 (TB) Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Karena melalui pertemuan-pertemuan ibadah ini, sebenarnya menjadi salah satu cara kita bisa di kalibrasi ulang. Mengingatkan kita sejauh apa kita sudah melangkah, apakah yang kita lakukan masih di jalan yang bener atau sudah ada penyimpangan. Semakin kita sering memberi diri kita di kalibrasi, maka semakin hal-hal yang bener lah yang keluar dari dalam hidup kita. Pertemuan ibadah bisa jadi ibadah di Gereja, komsel, kelompok pemuridan, doa bersama, bahkan pertemuan dengan orang-orang yang hidupnya lebih rohani dari kita yang bisa meng-kalibrasi hidup kita. Yang bisa mendorong bahkan mengingatkan kita atas kekeliruan kita.
Ayub 34:31-32 (TB) Tetapi kalau seseorang berkata kepada Allah: Aku telah menyombongkan diri, tetapi aku tidak akan lagi berbuat jahat; apa yang tidak kumengerti, ajarkanlah kepadaku; jikalau aku telah berbuat curang, maka aku tidak akan berbuat lagi,
Ayat diatas secara sederhana bisa diartikan sebagai "Tuhan tolong kalibrasi hidupku." Sebagai pengakuan bahwa kelemahan kita untuk mendeteksi apakah kita menyimpang atau tidak, dan sejauh apa kita sudah menyimpang. Dan pengakuan kita bahwa ada Pribadi yang berhak dan mampu untuk meng-kalibrasi ulang hidup kita ini. Bagaimanapun kebenaran itu adalah satu namun kemampuan kita untuk melakukan dan memahami nya membuat seolah-olah kebenaran itu banyak dan bisa di tawar. Sekarang pertanyaannya, apakah kita mau memberi hidup kita senantiasa di kalibrasi oleh kebenaran Firman Nya setiap waktu? Dibutuhkan kerendahan hati untuk akhirnya secara sadar berkata " Ya Tuhan ...aku mau."