Jumat, 17 November 2017

Belajar mendengarkan

Kita yang di lengkapi dengan indra pendengar yang sempurna oleh Sang Pencipta, Siapa sih yang ga bisa mendengarkan?? apa susahnya mendengarkan?? apakah perlu belajar untuk menjadi seorang pendengar???

Cukup sepele memang, tapi sadarkah kita bahwa masih banyak diantara kita yang belum "lulus" menjadi pendengar yang baik.

Waktu-waktu ini Tuhan memberi aku banyak pengalaman dan pengertian tentang makna "mendengarkan" orang lain. bagaimana dengan mendengarkan saja, orang merasa lega, dihargai dan disayangi. bayangkan saja dengan mendengarkan orang lain, satu sisi emosi seseorang kita bisa jangkau atau bahkan di pulihkan. Tanpa biaya dan aku pikir "hanya" dengan hal yang kita anggap sepele selama ini.
lalu kemudian pertanyaannya adalah mengapa tidak semua orang mau melakukannya??
aku pikir karna tidak semua orang punya Hati untuk mau mendengarkan.dan mungkin sebagian orang belum menyadari bagaimana besar nya dampak yang boleh ditimbulkan hanya dengan mendengarkan saja.

Kenapa aku bilang karna ga punya hati?? sebagian orang beranggapan bahwa mendengarkan itu menjadi "wajib" Jika pembicaranya adalah seorang yang berwawasan luas, punya pemikiran hebat atau kalo yang berbicara itu adalah orang yang disegani atau punya pengaruh.
beberapa waktu yang lalu ketika bapak ku datang mengunjungi kami anak2nya. aku punya banyak waktu bercerita dengan beliau. kalau boleh dibilang, pertemuan kali ini menjadi moment yang sangat berharga buatku. Bapakku seorang pemikir, punya banyak pandangan dan pedoman hidup yang di terapkan ke anak2 anak nya.
Waktu masih kecil dulu, saya ingat betul setiap selesai makan siang, bapak menyuruh kami anak2 nya duduk dan bapak mulai cerita panjang lebar. dan kadang tidak jarang cerita yang sama sudah berulang beberapa kali. tapi tidak seorang pun kami yang complain atau membantah ucapan bapak. yang ada kami hanya diam, mendengarkan walaupun dalam hati sudah tidak sabar untuk main di luar rumah. tapi sebelum bapak selesai cerita dan kasih nasehat-nasehat, tak satupun kami yang berani beranjak dari tempat duduknya. lucu memang kalau diingat-ingat sekarang.
Tapi setelah pertemuan dengan bapak kemaren saya mulai menyadari bahwa bapak kehilangan moment2 untuk bercerita kepada anak-anaknya. walaupun mungkin bisa komunikasi lewat HP tapi seolah- olah banyak hal yang bapak sudah ingin ceritakan pada kami. lebih lagi anak-anak nya sekarang sudah tidak seperti dulu lagi yang hanya bisa diam dan mendengarkan dan tidak beranjak dari tempat duduknya sebelum ada aba-aba. sekarang anak-anaknya sudah bisa kasih pendapat, saran atau bahkan sekedar kasih sanggahan.
Satu kali bapak cerita tentang kerinduannya akan satu hal di keluarga kami. bapak mulai cerita satu persatu tentang impiannya, harapannya dan yang akan dilakukaknya kelak. saya coba mendengarkan dan menyimak setiap apa yang bapak sampaikan.
 (saya paham betul sifat bapak saya ini. karna saya pikir saya sendiri juga diwarisi sifat ini dari bapak. bapak seorang pemikir dan kadang hal yang sangat jauh di depan sudah dipikirkan. kadang kala ketika tidak bisa dicapai kami akan merasa tertekan. padahal sebenarnya tidak ada orang lain yang menuntut kami untuk melakukan itu. ini hanya sekedar target pribadi kami untuk orang lain dan target itu tidak terpenuhi.)
Selesai bapak bercerita dan curhat, saya kemudian cerita bagaimana pekerjaan tangan Tuhan dalam hidupku. Puji Tuhan waktu2 ini dan pengenalan saya akan Tuhan lah yang akhirnya bisa menyadarkan saya bahwa rancangan Tuhan itu diatas rancangan kita. kita tidak bisa mengubahkan apapun di dunia ini, tapi Tuhan yang saya dan bapak saya sembah itu bisa dan hasilnya jauh lebih sempurna dari apa yang kami bayangkan. dan hal itulah yang coba saya sampaikan ke bapak. dan kali ini respon yang saya dapatkan adalah respon yang saya tidak pernah dapat dan bahkan tidak pernah saya bayangkan selama saya pernah ngobrol sama bapak seumur hidup saya.
bapak bilang "....iya  yah, itulah sebenarnya aku butuh anak-anakku untuk terus mengingatkan aku hal-hal seperti ini.." beghhhhh.... itu pengakuan terdahsyat saya pikir tentang bapak. itulah dampak terbesar dari sekedar mendengarkan yang aku alami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar