Aku bersyukur Tuhan menjadikan aku manusia dan bukan mahluk lain. Menjadikan aku Mahluk yang punya derajat lebih tinggi dari mahluk ciptaan lainnya. Memiliki emosi dan perasaan dan juga memiliki sebuah anugrah besar yang disebut “kehendak bebas” dari Tuhan. Meskipun disamping itu, aku menyadari sebagai manusia, juga harus bertanggung jawab untuk mengelola emosi dan kehendak bebas tadi. Karna tidak jarang justru anugrah kehendak bebas tadi justru membuat diri ku sebagai manusia sulit dan kesulitan menjadi manusia yang seharusnya.
Pernah gak punya pengalaman seperti ini: Merasa hidup lagi bener banget, mendapat semacam inspirasi dan pengertian yang akhirnya bikin semangat dan merasa hidup lagi produktif banget. Kayak kreatifitas nimbul muncul terus dan beraneka ragam. Nah.. trus tiba-tiba muncul masalah sepele, dan tiba-tiba hal itu seperti mempengaruhi seluruh hidupmu. Semangat yang berapi api tadi seolah hilang dalam sekejap. Walaupun mungkin masih banyak ide di kepala, tapi seolah ga ada tenaga untuk merealisasikannya menjadi sebuah karya. Dengan kata lain STUCK!!
Aku baru mengalaminya, dan rasanya itu sangat tidak enak. Dan tidak nyaman. Aku bisa merasa itu ga bener dan selalu berusaha untuk bangkit. Namun ternyata ga semudah mengucapkannya. Seolah olah aku juga ga tau mau bangkit ke arah mana, atau ke arah yang seperti apa. Ga tau gimana caranya bangkit dan kalaupun bangkit,seolah-olah aku tidak punya bayangan tempat yang bakal aku tuju. Semakin dilawan, tapi rasanya ga bisa, hanya energi saja yang terus terkuras dan yang ada malah merasa semakin melelahkan namun tidak ada hasil. Semua Seolah olah ga ada yang bener ga ada clue.
Di satu ttitik aku mulai menyadari kalau ini itu wajar adanya. Ini yang dinamakan dengan emosi tadi, yang mengkonfirmasi kalau kita adalah manusia yang NORMAL yang punya perasaan dan emosi . perasaan sedih, perasaan kecewa, perasaan bingung, perasaan lemah, dan perasaan2 lain . tapi kemudian kita juga punya semacam REMOTE yang akan menjadi ujung dari semua perasaan ini. yang membuat kita bisa membuat arah, ke mana perasaan itu akan kita bawa. Atau keputusan seperti apa yang akan kita ambil: apakah kita akan memimpin atau malah dipimpin oleh semua emosi tadi.
REMOTE itu adalah kehendak bebas yang di anugerah kan Tuhan pada kita. Kita diberi peluang untuk mengelola dan bertanggung jawab atas semua emosi tadi. Dan kemudian memberi keputusan atas pilihan tadi. Dan keputusan yang kita ambil akan mempengaruhi kehidupan kita seluruhnya. Misalnya, ketika kita mengalami kegagalan, lalu berbagai macam emosi muncul sebagai reaksi nya, mungkin sedih, kecewa, menyalahkan, merasa bersalah dll. Dan kemudian kita memutuskan apakah kita akan melangkah maju mencoba kesempatan demi kesempatan sampai kita meraih keberhasilan atau kita memutuskan menangisi kegagalan kita dan tanpa mencapai apa-apa.
Lalu bagaimana kalau kita berada pada posisi seolah-olah tidak mampu untuk memberi keputusan atas semua emosi itu?? jawabannya adalah bertanya lah pada provider-nya. Yang menganugerahkan kehendak bebas itu pada kita. Yang juga sekaligus yang melengkapi kita manusia dengan emosi tadi.
Nah.. aku juga menyadari kita harus mulai sadar bahwa tidak ada yang salah dengan emosi itu. Semua ada masanya kan?? masanya untuk tertawa, menangis, sedih, dan yang lainnya juga. dari pengalamanku, sering kali tidak bisa bangkit itu karna aku berusaha menolak emosi itu atau mungkin menyangkalnya. Dengan berkata aku gapapa!! di situasi yang sebenarnya butuh ditolong . Seolah emosi sedih atau marah itu suatu kesalahan besar yang di lakukan sebagai manusia. Ketika marah misalnya, merasa seolah olah sudah gagal menjadi orang penyabar. Ketika menangis, merasa bahwa sudah gagal menjadi orang yang bahagia, ketika sedih, merasa menjadi manusia paling lemah. BIG NO.. aku pikir semua emosi itu semuanya berguna makanya Tuhan memberi itu.
Yang salah ketika kita menggunakan emosi itu di tempat dan di dosis yang salah menurutku. Untuk itulah masing-masing emosi tadi perlu dilatih ketajamannya. Agar berfungi proporsional. Bukan menjadi emosi yang salah guna, Misalnya ketika kita menangis tapi terbahak bahak .. ehh… bukan, maksudnya ketika mungkin emosi yang berlebihan yang sampe menyakiti orang lain. Atau kita malah tertawa di atas penderitaan orang lain. Itu baru salah. Atau yang lebih salah lagi, ketika emosi membuat kita melakukan dosa. Lalu bagaimana cara menggunakan emosi itu?? balik lagi, tanya kepada si “Pemberi Anugrah”
#Menjadi Manusia
#pemikiran pribadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar