Hai diriku...
Maaf kalau terlalu lama aku mengabaikan kebahagiaan kecil yang kau minta
Berhenti sejenak melihat jingga matahari pagi, katamu suatu kali
Lihatlah hijaunya rumput dibawah birunya langit,
Atau bentuk air sehabis hujan, yang penuh di ujung daun dan hampir jatuh ke tanah
Atau berimajinasi tentang bentuk awan yang selama ini bisa menarik ku sesaat dari hiruk pikuknya semesta ini,
"nanti..." Kataku tanpa menyadari kalau "nanti" itu ternyata tidak memiliki batas
Dan akhirnya kau terdiam, tak lagi meminta. Bukan karna tak lagi butuh. Tapi akhirnya terbiasa tanpanya.
Aku terus berlari tanpa ku tau apa yang ku kejar
Terburu-buru tanpa tau siapa yang mengejar.
Sampai ku sadari sudah terlalu banyak kesempatan untuk menikmati kebahagiaan kecil itu yang terlewat
Aku lelah kataku sesaat kemudian, kepalaku berpeluh, batinku sesak, ragaku seolah kehilangan kendalinya
Rasanya bahkan tak sanggup lagi aku mencari sandaran untuk sejenak rehat. Antara tak sanggup atau tak lagi tau tempatnya.
Aku kehilangan pegangan ku.
Yang tersisa hanya ingatan akan kebahagiaan kecil yang pernah kau minta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar