Senin, 27 Oktober 2025

Percaya kemudian melihat

"Kau terbesar dan mulia, 

Ajaib semua perbuatanMu"...


Begitulah sepenggal lirik salah satu lagu pujian. Sangat powerfull, sangat meneguhkan. 

Tapi, bagaimana kita memaknainya, bahkan menyanyikannya ketika situasi yang kita alami seolah-olah tidak membuktikan itu?


Suatu kali, sebelum berangkat ibadah, ponakanku bilang kalau beras dirumah sudah habis. Bahkan untuk makan malam hari itu pun sudah tidak ada. Bahkan untuk siang mungkin pas-pasan atau bahkan kurang. Pagi itu, karna udah buru-buru mau berangkat ibadah, aku pesankan ke ponakanku kalau nanti nasinya habis, minta tolong sama saudara aja yang kebetulan rumah nya tidak terlalu jauh dari rumah. Sebelumnya aku udah inisiatif mau pinjam uang untuk beli beras, tapi katanya tidak punya uang. Tapi kalau Sebatas nasi untuk siang itu, pastilah mereka masih punya pikirku. 


Singkatnya, jadilah aku berangkat ibadah pagi itu dengan rancangan akan meminjam uang dari salah satu saudara di gereja, untuk membeli beras hari itu, mungkin untuk sekilo atau dua kilo beras yang penting cukup beberapa hari kedepan, lalu kemudian dipikirkan lagi. Sepanjang ibadah aku terus berfikir perkara beras habis dirumah. Di tengah ibadah, Pujian itu dinyanyikan . "....Kau terbesar dan mulia, ajaib semua perbuatanMu..." 


Saat itu mungkin aku tidak bisa melihat "perbuatan Tuhan yang ajaib" itu. Aku tidak mengalaminya nyatanya aku tau beras dirumah habis, dan aku harus minjam, ga tau kapan bisa balikin pinjaman itu nantinya, Ada satu intimidasi yang bilang dalam hati, "katanya Tuhanmu terbesar dan mulia, tapi masak untuk kebutuhan pokok mu aja Tuhan ga mau sediakan? berarti pujian itu ga valid dong, ngapain di nyanyiin kalo ga valid?

 tapi kemudian ada keyakinan dalam hati yang mendorong kuat untuk terus menyanyikan pujian itu. "... seg'nap hati aku memuji, seg'nap jiwa aku bernyanyi karna RohMu ada dalamku Tuhan..." Ketika pujian itu dinyanyikan berulang-ulang, pujian itu kunyanyikan dengan sepenuh hati bahkan semakin meresap ke hati, semakin diingatkan bagaimana seharusnya belajar percaya dan memperkatakan dengan iman. Bukan karna jalan keluarnya masalahku sudah ditemukan. Tapi belajar percaya aja bahwa Tuhan punya cara-cara Nya sendiri dan ajaib untuk menolong aku dan keluargaku. Selama kami datang berseru sama Tuhan, masakan Tuhan akan biarkan kami sampai kelaparan dan tidak makan? Sangat tidak mungkin. Tiba-tiba ada yang diubahkan dari sudut pandang ku tentang pujian, tentang cara kerja Tuhan dan siapa Tuhan itu sendiri


Selesai ibadah, Seperti biasanya setiap Minggu selalu ada acara makan siang di gereja untuk semua jemaat. Siang itu juga kami makan bersama-sama dan setelah makan siang, semua jemaat pulang satu persatu, tinggal kami berdua beberes ruangan sekretariat gereja yang dipakai makan siang. Sambil beberes, tiba-tiba saudara itu bilang kalau nasi siang itu berlebih banyak. Dan singkat cerita aku disuruh untuk membawa nasinya pulang. Ada kalanya memang ada nasi berlebih atau lauk berlebih, tapi kali ini nasinya berlebih banyak sekali. Rasanya jumlah jemaat yang datang juga tidak sedikit. Jumlah beras yang dimasak juga sama aja seperti Minggu biasanya. Melihat itu aku jadi terdiam. Pada saat itu aku bahkan belom bilang mau pinjam duit. Aku bahkan tidak ingat lagi masalah beras dirumah. Tapi saat itulah Tuhan tunjukkan kalau Tuhan itu ajaib dan besar dan mulia. 


Aku benar-benar terpukau sama caranya Tuhan. Waktu nasi itu dibungkus, aku mau nangis, rasanya aku mau langsung cerita sama pembimbing ku, yang lagi bungkusin nasi itu. tapi rasanya kata-kata untuk menggambarkannya terlalu banyak di kepalaku, sampai aku ga tau mau mulai dari mana. Sampai akhirnya yang keluar hanya ucapan syukur ke Tuhan, ke pembimbingku aku bilang: "nanti satu saat aku akan cerita tentang ini ke kakak" dengan mata berkaca-kaca, dadaku penuh rasanya.


Sampai di rumah, ponakanku cerita ga jadi minta nasi siang itu, dia makan seadanya nasi yang tersedia, dan nasi yang kubawa cukup sampai besok siang nya. Luar biasanya lagi ,besok harinya salah seorang saudara datang mengantar uang untuk belanja kami. Semua tercukupi!. Ga hanya beras!, sayur dan lauk pauknya Tuhan sediakan

Dan memang ajaib cara-cara Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kami, karna setelah kejadian itu, aku mengingat- ingat kembali bagaimana pekerjaan Tuhan sebelumnya. Aku menyadari itu, Tapi kadangkala kekhawatiran diri sendiri membuat aku tidak melihat cara-cara Tuhan yang luar biasa itu bekerja. Tidak sabar untuk menunggu cara Tuhan, dan akhirnya bertindak mengandalkan kekuatan sendiri. Secara mata jasmani mungkin ending nya bisa jadi  sama. Setelah aku pinjam duit, aku kemudian beli beras, Sama-sama kebutuhan nya terpenuhi. tapi yang terlewat adalah, kehilangan kesempatan melihat cara-cara Tuhan yang ajaib itu, kalau aku tidak belajar percaya penuh kepada Tuhan. 


Belajar terus memperkatakan, sekalipun seolah tidak ada jalan keluar. Tapi ketika hal yang benar itu terus diperkatakan sampai pikiranku, hatiku bahkan seluruh nya aku mempercayai itu, maka hal itu akan diberikan kepadaku

Markus 11:24 (TB)  Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.


Jumat, 17 Oktober 2025

Bertumbuh tanpa sesal |171025

Aku tau, kamu tidak jahat

Dan kupastikan aku juga bukan orang jahat

Kita masing² hanya sedang bertumbuh

Lalu kemudian masuk ke fase hidup yang baru

Yang kita sendiri memang tidak paham sebelumnya


Jangankan menerjemahkannya agar kau mengerti. 

Aku sendiripun tak paham. 

Jadi, ga mengapa kalau hari ini gak ngerti

Tak perlu buru-buru memberi nama pada fase ini

Cukup nikmati saja proses tumbuhnya

Supaya kita tumbuh jadi yang semestinya

Tidak ada proses yang terlalu dipaksakan

Jadi manusia yang otentik, bukan karbitan

Maknai setiap waktu, 

Supaya kelak tidak ada yang disesali. 


Kalau saat ini terasa harus berjarak, 

Tak mengapa, setidaknya tidak saling menyakiti

Bertindak dengan kesadaran penuh

Kemudian meninggalkan fase ini kelak dengan hati penuh. 

Tak perlu menyalahkan siapapun. 

Karna memang semua orang harus bertumbuh. 

Kau tak bodoh, kalau hari ini belum mengerti

Memang mungkin harus demikian adanya. 




Kumpulan puisi untuk novel

#1
Aku menggenggaaam masa lalu
Meremuknya dengan sisa emosi yang kupunya
Namun tak pernah aku mampu memusnahkannya
Walau berkali2 telah kucoba
Percayalah aku mencobanya berulang-ulang 

#2
Aku mengenal mu sampai ke hati
Ku rasa kau pun begitu
Hanya denganmu, Segala cerita bisa ku bagi
Kau tau, itu yang membuatku membutuhkanmu
Tapi kurasa beda hari ini
Kenapa bibirku seolah tak mampu
Tubuhku seolah meriang berbicara dalam imajinasi
Dengarlah sahabat sekali saja ku teriakkan tanpa ragu
Aku mencintaimu kini dan nanti




#3

Dulu sekali rindu menjadi mantra yang berjiwa bagi kita
Terngiang jelas bagaimana kau mengejanya di telingaku
Menjadi senandung yang kerap mengantarku tidur
bayangan skenario indah yang mengukir tawa dalam mimpi

Kini semuanya jadi hambar
Seolah2 mantra itu tak pernah kita ucap
Bagaimana mungkin dia mengantarku tidur lalu tertawa??
Kalau nyatanya dia hanya sekedar kata tanpa makna??

Tidakkk...
Tidak ada yang salah dalam rindu kita
Kita hanya berada dalam titian waktu yang berbeda
Nyatanya kau hanya tidak lagi berkawan pada irama yang ku nikmati
Aku tidak lagi bercerita tentang warna-warna yang menemaniku
Dan kau merasa cukup ketika kau tau siapa aku dulu. Tapi tidak dengan diriku yang sekarang

Kini aku kembali, tapi rasanya tak lagi sama
Memulai lagi dengan orang asing yang dulu rindunya selalu kutunggu.
Berjabat tangan dengan kenangan yang sebentar akan kita ukir.
Akan ku ajak kau berkawan dengan warna irama yang kunikmati dulu
menertawakan mimpi yang dulu ada dalam tidurku.
Dan lalu memeluk rindu yang sekarang tak lagi mempesona.

#4

Malam ini aku merindumu lagi
Segala nada seolah menarikku ke dalam kenangan kita
Setiap syair di Bait lagu seolah bercerita tentang kita
Ingin rasanya mengajakmu sekedar menertawakan dunia ini
Seperti dulu kita menakhlukkannya

Kutuliskan namamu, namun tak pernah ku sebut lagi
Kini Aku sadar kita tak lagi sepaham
Mungkin kau bukan lagi dia yang ku rindukan
Kurasa aku mulai lelah, aku menyerah
Biarlah sejenak aku memberi jarak
Untuk akhirnya melupakan segala sesuatu yang kusebut rindu.

#5
Aku takut merindu
Terlalu takut hingga menyesak
Aku benci rasanya waktu yang membentuknya
Haruskah aku tak mencinta untuk mengabaikannya??
Lalu aku putuskan dibenci saja sebelum rindu itu datang
Maaf aku tak bermaksud tak memberimu ruang
Aku hanya tak siap jika rindu harus mengganggu.
Walau aku hanya tidak menyadarinya.
Aku tak sengaja
Bicaralah kepadaku seperti seorang gila
Biar kau tau, ketakutanku karna rasa yang berjuta


#6

Terlambat kusadari jika kau adalah cinta
Terlalu naif waktuku berlalu denganmu selama ini
Meninggalkanmu untuk mengejar dia yang kuanggap cinta
Kau yang kini telah sembuh
Cintamu yang dulu telah luruh
Hampir tak berjejak

Semantara aku...
disini aku mengerang merindukan rasa
Mencoba melepasnya, tapi enggan melupakan
Terlalu lekat indahnya masalaluku
Tapi itu hanya jika denganmu
Yang kini telah melepasku

Tak bisa kutahan langkahmu kini
Terlalu jauh kau pergi,
terlalu mudah mungkin bagimu mengiklaskanku
Tak ingin aku sakitimu lagi
Biar bahagiamu kini jadi bagianku
Akan ku coba menikmati bayangan cinta dari belakangmu.

Rev#3des18



Aku rindu
Adakah kau tau?? Atau sekedar peduli??
Kata2 saja seakan tak cukup menebusnya
Ada jarak yang kini memisahkan raga kita
Tapi,seandainya pun tidak.. Rasapun kini sudah berbeda
Rinduku hanya akan menjadi tanda tanpa makna bagimu
Tak seperti rinduku yang dulu mampu memanggilmu
Kini mengucap nya pun seolah aku tak mampu
Aku takut rinduku tak berbalas
Lalu kemudian berbalik menghancurkanku




Aku berjuang melawan perihku
Aku belajar tidak menyalahkan semesta
Mengapa dia mengkotakkan rasa yang kupunya
Yakinku memisahkan inginku untuk bersamamu
Apakah ini adil??
Haruskah aku menunggu sampai semesta balik mendukung
Atau kubiarkan saja yakinku menjadi sekedar isyarat
Atau inginku hanyalah sekedar rasa yang akan berujung
Seperti tepian pantai yang terkikis dan akhirnya hilang
Sementara waktu berjalan terus
Tanpa kutau kemana dia akan membawaku