"Kau terbesar dan mulia,
Ajaib semua perbuatanMu"...
Begitulah sepenggal lirik salah satu lagu pujian. Sangat powerfull, sangat meneguhkan.
Tapi, bagaimana kita memaknainya, bahkan menyanyikannya ketika situasi yang kita alami seolah-olah tidak membuktikan itu?
Suatu kali, sebelum berangkat ibadah, ponakanku bilang kalau beras dirumah sudah habis. Bahkan untuk makan malam hari itu pun sudah tidak ada. Bahkan untuk siang mungkin pas-pasan atau bahkan kurang. Pagi itu, karna udah buru-buru mau berangkat ibadah, aku pesankan ke ponakanku kalau nanti nasinya habis, minta tolong sama saudara aja yang kebetulan rumah nya tidak terlalu jauh dari rumah. Sebelumnya aku udah inisiatif mau pinjam uang untuk beli beras, tapi katanya tidak punya uang. Tapi kalau Sebatas nasi untuk siang itu, pastilah mereka masih punya pikirku.
Singkatnya, jadilah aku berangkat ibadah pagi itu dengan rancangan akan meminjam uang dari salah satu saudara di gereja, untuk membeli beras hari itu, mungkin untuk sekilo atau dua kilo beras yang penting cukup beberapa hari kedepan, lalu kemudian dipikirkan lagi. Sepanjang ibadah aku terus berfikir perkara beras habis dirumah. Di tengah ibadah, Pujian itu dinyanyikan . "....Kau terbesar dan mulia, ajaib semua perbuatanMu..."
Saat itu mungkin aku tidak bisa melihat "perbuatan Tuhan yang ajaib" itu. Aku tidak mengalaminya nyatanya aku tau beras dirumah habis, dan aku harus minjam, ga tau kapan bisa balikin pinjaman itu nantinya, Ada satu intimidasi yang bilang dalam hati, "katanya Tuhanmu terbesar dan mulia, tapi masak untuk kebutuhan pokok mu aja Tuhan ga mau sediakan? berarti pujian itu ga valid dong, ngapain di nyanyiin kalo ga valid?
tapi kemudian ada keyakinan dalam hati yang mendorong kuat untuk terus menyanyikan pujian itu. "... seg'nap hati aku memuji, seg'nap jiwa aku bernyanyi karna RohMu ada dalamku Tuhan..." Ketika pujian itu dinyanyikan berulang-ulang, pujian itu kunyanyikan dengan sepenuh hati bahkan semakin meresap ke hati, semakin diingatkan bagaimana seharusnya belajar percaya dan memperkatakan dengan iman. Bukan karna jalan keluarnya masalahku sudah ditemukan. Tapi belajar percaya aja bahwa Tuhan punya cara-cara Nya sendiri dan ajaib untuk menolong aku dan keluargaku. Selama kami datang berseru sama Tuhan, masakan Tuhan akan biarkan kami sampai kelaparan dan tidak makan? Sangat tidak mungkin. Tiba-tiba ada yang diubahkan dari sudut pandang ku tentang pujian, tentang cara kerja Tuhan dan siapa Tuhan itu sendiri
Selesai ibadah, Seperti biasanya setiap Minggu selalu ada acara makan siang di gereja untuk semua jemaat. Siang itu juga kami makan bersama-sama dan setelah makan siang, semua jemaat pulang satu persatu, tinggal kami berdua beberes ruangan sekretariat gereja yang dipakai makan siang. Sambil beberes, tiba-tiba saudara itu bilang kalau nasi siang itu berlebih banyak. Dan singkat cerita aku disuruh untuk membawa nasinya pulang. Ada kalanya memang ada nasi berlebih atau lauk berlebih, tapi kali ini nasinya berlebih banyak sekali. Rasanya jumlah jemaat yang datang juga tidak sedikit. Jumlah beras yang dimasak juga sama aja seperti Minggu biasanya. Melihat itu aku jadi terdiam. Pada saat itu aku bahkan belom bilang mau pinjam duit. Aku bahkan tidak ingat lagi masalah beras dirumah. Tapi saat itulah Tuhan tunjukkan kalau Tuhan itu ajaib dan besar dan mulia.
Aku benar-benar terpukau sama caranya Tuhan. Waktu nasi itu dibungkus, aku mau nangis, rasanya aku mau langsung cerita sama pembimbing ku, yang lagi bungkusin nasi itu. tapi rasanya kata-kata untuk menggambarkannya terlalu banyak di kepalaku, sampai aku ga tau mau mulai dari mana. Sampai akhirnya yang keluar hanya ucapan syukur ke Tuhan, ke pembimbingku aku bilang: "nanti satu saat aku akan cerita tentang ini ke kakak" dengan mata berkaca-kaca, dadaku penuh rasanya.
Sampai di rumah, ponakanku cerita ga jadi minta nasi siang itu, dia makan seadanya nasi yang tersedia, dan nasi yang kubawa cukup sampai besok siang nya. Luar biasanya lagi ,besok harinya salah seorang saudara datang mengantar uang untuk belanja kami. Semua tercukupi!. Ga hanya beras!, sayur dan lauk pauknya Tuhan sediakan
Dan memang ajaib cara-cara Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kami, karna setelah kejadian itu, aku mengingat- ingat kembali bagaimana pekerjaan Tuhan sebelumnya. Aku menyadari itu, Tapi kadangkala kekhawatiran diri sendiri membuat aku tidak melihat cara-cara Tuhan yang luar biasa itu bekerja. Tidak sabar untuk menunggu cara Tuhan, dan akhirnya bertindak mengandalkan kekuatan sendiri. Secara mata jasmani mungkin ending nya bisa jadi sama. Setelah aku pinjam duit, aku kemudian beli beras, Sama-sama kebutuhan nya terpenuhi. tapi yang terlewat adalah, kehilangan kesempatan melihat cara-cara Tuhan yang ajaib itu, kalau aku tidak belajar percaya penuh kepada Tuhan.
Belajar terus memperkatakan, sekalipun seolah tidak ada jalan keluar. Tapi ketika hal yang benar itu terus diperkatakan sampai pikiranku, hatiku bahkan seluruh nya aku mempercayai itu, maka hal itu akan diberikan kepadaku
Markus 11:24 (TB) Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar