Ada yang memilih untuk menyerah karna merasa takkan mampu memenangi pertandingan. atau mungkin sebagian merasa udah sampai di ujung pertarungan, lalu berhenti karna tidak mau melihat pertandingan secara keseluruhan karna sudah merasa cukup atas apa yang sudah diperjuangkan. atau mungkin sebaguan lagi adalah mereka yang sebenarnya udah berhasil tapi tidak pernah menyadari dan tetap dalam pertarungan yang dibuatnya sendiri, dan sebagainya.
Dan menurutku, perjuangan itu sifatnya seumur hidup. tapi mungkin arena nya saja yang berbeda-beda, dan dalam tingkat kesulitan yang berbeda-beda juga. Dalam perjuangan ini sangat sulit menentukan siapa yang lebih baik dari siapa. karena memang setiap orang mengalami perjuangan yang beda dan arena yang berbeda pula. Tuhan mengizinkan kita ada di suatu arena menurut pandangan-Nya . jadi kita hampir tidak bisa menemukan perbandingan apple to apple untuk membandingkan tiap perjuangan manusia satu ke yang lainnya. karna mereka akan menemukan hasil yang berbeda-beda dan pencapaian yang berbeda beda pula. dan karna alasan ini pulalah, semakin menyadarkan bahwa tidak ada alasan untuk menghakimi perjuangan orang lain.
misalnya satu orang berjuang untuk bisa bangun pagi jam 6 setiap harinya. sementara yang lain berjuang untuk bisa bangun jam 10 setiap hari. lalu apakah kita bisas memutuskan bahwa perjuangan yang jam 6 lebih sulit dari jam 10?? tentu saja tidak bisa , karena kita tidak tau latar belakang nya, misalnya. bagaimana jika orang yang berjuang bangun jam 6 adalah mereka yang punya rutinaitas teratur?, pagi hari sampai siang hari mereka bekerja dan sudah tidur dari jam 9 malam hari nya. sementara yang berjuang bangun jam 10 adalah mereka baru tidur satu jam atau dua jam sebelumnya. atau mungkin mereka yang selama ini yang tidak pernah bisa tidur nyenyak dan berharap ada tambahan tidur nyenyak sampai jam 10 pagi
Dan aku, inilah jenis perjjuangan yang kuhadapi sekarang. berjuang untuk terus menyadarkan diriku pada panggilan awal ketika Tuhan memimpinku ke tempat ini.
Aku ingat dulu pergolakan dalam diriku sebelum akhirnya memutuskan datang ke kota ini. aku perlu memantapkan diriku, menggali dalam diriku sendiri, memastikan bahwa tidak ada ambisi pribadi di dalamnya. jujur saja ini bukan perjalanan mudah bagiku, tapi justru semakin aku menyadari ini bukan perjalanan mudah, aku semakin takut untuk melakukan kesalahan dan termasuk dalam hal mengambil keputussan, disitulah aku sadari aku semakin bergantung kepada Tuhan .
mulai menguji pilihan dan kemungkinan kemungkinan yang ada dalam pikiranku apakah itu berasal dari pikiranku sendiri atau itu datangnya dari Tuhan. dan satu hal yang sangat perlu kupastikan adalah bahwa motivasi nya bukan tentang uang atau sejenisnya. aku yakin ada beberapa orang yang menilai kepergianku kali ini karna mengejar materi semata. karna mungkin yang mereka tau, aku berangkat karna dijanjikan pekerjaan dari saudaraku. tapi satu hal yang mungkin ga mereka tau atau sadari bahwa sebenarnya, gaji yang di janjikan adalah sama besarnya dengan yang biasanya kuterima ketika aku menjaga keponakanku. jadi kalau soal materi, tentu bukan itu pertimbanganku.
Sekalipun mungkin orang-orang menganggapku kalah dalam hal ini, kelihatannya seolah aku meninggalkan pelayanan demi mengejar materi. tapi satu yang ku pelajari bahwa, kadangkala aku juga harus belajar membiarkan diriku kehilangan kebanggaannya di depan orang-orang. tapi bukan di depan Tuhan. sebodoh-bodohnya aku menerjemahkan suara Tuhan, biarlah aku malu di hadapan Nya saja, bukan di hadapan penilaian orang-orang.
Inilah salah satu pergumulan dan pernyataanku kepada Tuhan dan akhirnya jawabannya ketika salah satu saudaraku bicara tentang kerinduannya, yang intinya dia rindu kami bersaudara saling tolong menolong. dan ini merupakan doa ku sepanjang tahun. berdoa untuk keluarga besar kami dan secara khusus keluarga inti kami.
Sekarang aku mulai mengerti poin ini! artinya, bahwa, aku datang kesini bukan untuk mengejar materi. jadi bukan supaya menjadi kaya, bukan untuk jadi pengusaha dan sebagainya. tapi sebagai penolong bagi saudaraku. inilah titik fokusku yang pertama (bukan terutama)
lalu jawaban kedua, dari hamba Tuhan yang berdoa untuk keberangkatanku kesini untuk memberkati setiap tempat yang kutuju. jadi inilah tiitk fokusku yang kedua dan yang harus aku tanamkan dalam hatiku. Jadi, sekalipun mungkin aku belum tau persis nya "berkat"seperti apa yang akan Tuhan nayatakan bagi setiap tempat. maka bagianku untuk menyiapkan diri ketika nanti suatu saat Tuhan memintaku untuk melakukannya.
Namun lambat laun, aku menyadari bahwa ada rencana-rencana yang mulai ku bentuk untuk diriku sendiri. mungkin ga ada salahnya kalau kita selalu punya perencanaan untuk kedepannya dan justru itu sangat bagus. Tapi yang salah ketika titik fokus ku mulai berpindah. ada tingkat prioritas yang mulai berubah sekarang. dan akibatnya ketika banyak hal yang terjadi kemudian berjalan seperti di luar dari apa yang aku rencanakan, aku mulai terusik. aku gampang putus asa, gampang down, karna merasa aku kehilangan sesuatu yang bisa ku kendalikan sendiri. dan kendali itu selama ini membuat aku merasa hebat. dan aku mulai sadar kalau ada yang salah dengan itu
Aku berhenti sejenak, mengingat ingat kembali titik-titik fokus yang dimana seharusnya aku bertumpu. mungkin ada waktu yang sempat terbuang. ada emosi dan kemarahan yang seharusnya ga perlu, tapi kubiarkan terjadi. ada banyak hal yang terbengkalai, tapi apapun itu, sekarang aku mau belajar berdiri di arenaku sendiri. mempelajari arena yang baru ku tempati sebagai tempatku bertarung. aku sempat kalah, tapi bukan berarti aku sudah berakhir.
ketika perubahan ini mulai mengganggu tujuan awalnya maka berarti aku harus berjuang demi tercapainya tujuan awal bukan berjuang supaya aku bisa menggenapi ambisiku pribadi. ini yang aku sadari sekarang. dan apapun yang terjadi, ketika tidak mengganggu titik fokus tadi, maka bukan bagianku untuk dibuat pusing oleh nya apalagi sampai mencampurinya. karna aku dipanggilNya untuk menggenapi rencanaNya, so.. bukankah Dia sendiri yang akan bertindak ketika ada yang berusaha menghalangi rencana Nya tergenapi??
Siapa aku sehingga berfikir punya bagian apalagi punya kuasa untuk mencampurinya??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar