Minggu, 30 Maret 2025

Dewasa

 Kadang kita menuntut orang lain untuk dewasa,

tapi seringkali kita lupa bahwa:

penolakan, perdebatan, ketidak-setujuan, suka mengambil keputusan beresiko, merupakan langkah menuju pendewasaan yang seringkali menjadi hal paling tidak kita setujui untuk mereka lakukan.

Mengasihi

 Intinya

Kita hanya dua orang yang berada di dua kutub yang berjauhan.

Aku tau tak ada niat untuk saling melukai, tapi dengan tetap bertahan di kutub masing-masing membuat kita tak akan pernah sepaham. 

Tapi berusaha untuk menarik yang lain keluar dari kutub nya pun jauh akan lebih menyakitkan. 

Kita mempunyai prioritas yang berbeda

Sudut pandang yang berbeda

Dan cita-cita yang berbeda

Lalu apalagi yang seharusnya kulakukan?? Selain menjauh dan meyakinkan diri bahwa selamanya bagi kita akan sangat menyiksa.


Tapi entah kenapa, rasanya masih banyak isi hati dan kepala ini yang ingin di tumpahkan

Tapi sekali lagi, berakhir dengan sakit hati 

Sudahlah, sekarang akan ku pastikan aku pergi tanpa rasa bersalah

Dan bukan juga karna kalah

Hanya karna se-sederhana menyadari bahwa, tak semua manusia harus hidup berdampingan.

Tak semua harus bisa sepaham dan saling mengerti

Tapi satu yang pasti, semua harus saling mengasihi. Entah siapapun dia

Apapun alasannya

Apapun caranya

Termasuk dengan cara meninggalkannya

Karna aku mengasihinya

Survival mode vs Striving mode (130824)

Filipi 1:27 (TB)  Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, 


Lukas 13:24 (TB)  Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. 



Pada dasarnya semua manusia dikaruniai naluri untuk bertahan hidup. Bagaimanapun sulitnya, manusia itu akan bertindak sendiri untuk mencapai Batas "aman" nya. Contohnya ketika keadaan terdesak saat seseorang diancam bahaya, misalnya dirampok. Maka otak seseorang tersebut akan menggerakkan seluruh badan menghasilkan refleks mempertahankan diri, kalaupun tidak memberikan perlawanan, minimal refleks yang timbul adalah menghindar. Dan itu kita lakukan seringkali sebelum otak kita berproses secara sadar, itulah yang disebut naluri untuk bertahan hidup. 

Contoh lain yang jauh lebih sederhana dari itu adalah sistem refleks organ tubuh kita , ketika debu masuk ke mata, refleks yang yang dihasilkan adalah, kelopak mata menutup. Dan kalau debu udah terlanjur masuk, maka air mata akan keluar untuk melumasi bola mata, mendorong debu keluar dari mata kita. Apakah itu kita lakukan atas kesadaran kita? Tidak bukan!. Itu terjadi begitu saja, sebagai hasil refleks tubuh kita. Begitulah tubuh kita di design oleh Tuhan.


Nahh.. ternyata bagi manusia, hal naluri bertahan hidup ini juga berlaku bukan hanya untuk gangguan fisik, tetapi juga bagi ego nya. Jadi jika seseorang atau sesuatu hal mengganggu kenyamanan ego tersebut, maka akan timbul reaksi spontan yang sepertinya belom sempat di proses di otak terlebih dahulu.

Reaksi atas aksi yang menyangkut ego ini seringkali berupa tindakan seperti "balas dendam" kalau aku dilukai, maka reaksi ku adalah melukai balik atau minimal membuat orang lain merasakan luka seperti apa yang ku alami. Kalau aku diabaikan maka reaksi yang ku lakukan adalah mengabaikan orang tersebut balik. Seolah tidak mau menjadi korban sendirian. 


Begitulah naluri bertahan hidup nya manusia berjalan terus. Jadi, bisa dibayangkan jika aku "merasa" tersakiti oleh si A, maka aku akan membuat si A merasakan hal yang sama. Lalu, si A ketika merasakan "sakit" yang ku timbulkan, dia juga akan melakukan hal yang sama, jadi rasa "sakit" ini seperti mata rantai yang terus berputar tanpa henti. Belum lagi, ketika rasa sakit yang kita terima itu tidak hanya melukai si pembuat luka. Tapi bisa melukai orang lain di sekitar kita sebut saja si B. Si B terkena imbasnya hanya karna dia ada si lingkungan ku, sehari-hari bersamaku, dan melihat "sakit" itu dan kemudian ikut menjadi sakit. kemudian si B transfer ke si C dan seterusnya. Karna bagaimanapun juga emosi itu akan ter-transfer ke orang-orang di sekitar kita entah kita sadar atau gak, entah kita sengaja atau gak. Bayangkan lah kondisi dunia ini akibat naluri bertahan hidup yang dimiliki manusia tersebut. 


Jadi, bagaimana itu bisa berhenti? Itulah pentingnya kasih Tuhan itu dalam hidup kita. Sebagaimana emosi negatif itu bisa menular, demikian juga hal nya energi positif itu. Jika kita hidup dalam kasih Tuhan, demikian juga kasih itu akan ter-transfer bagi orang disekitar kita.


Ketika hidup kita sebagai manusia di lengkapi dengan  mode bertahan hidup atau survival mode, ternyata di dalam Tuhan kita diperlengkapi dengan mode berjuang atau striving mode. Di dalam Tuhan kita tidak hanya diperlengkapi bagaimana caranya berjuang, tapi juga kekuatan untuk berjuang. 


Di dalam Tuhan kita menyadari bahwa hidup yang kita hidupi adalah hasil dari penebusan Tuhan. Semakin kita menyadari bahwa hidup kita adalah anugerah, Semakin kita sadar bahwa ego kita seharusnya tidak lagi sesuatu yang perlu di perjuangkan, harga yang melekat dalam diri kita udah lunas dibayar dengan darah Kristus. Jadi kita tidak perlu repot melabeli diri kita dengan harga yang di tetapkan dunia ini. Ga perlu bertekak dengan orang-orang bahkan dengan dunia ini, karna kita dengan sangat yakin dan sadar bahwa harga itu udah Tuhan pastikan lunas dibayar dan yang sudah pasti MAHAL karna ditebus dengan Darah Anak Allah sendiri. 


Itulah yang perlu kita perjuangkan. Memastikan bahwa ego kita bukan sesuatu yang perlu kita bela, atau perjuangkan. Sekalipun dunia mengatakan kita tidak berharga, kita berjuang meyakinkan diri kita sendiri bahwa kata Tuhan hidup kita berharga. Ketika kita merasa diabaikan dan tidak dihargai, kita berjuang meyakinkan diri bahwa sebagai anak Tuhan, kita tidak pernah benar-benar sendiri, karna Roh Tuhan selalu ada dalam kita. Ketika kita merasa tidak dilibatkan, kita perlu berjuang untuk bisa fokus bahwa kita terlibat dalam tugas pekerjaan kerajaan Nya yang mulia. 


Itulah yang terus menerus perlu diperjuangkan supaya hidup kita sepadan dengan apa yang memang Tuhan inginkan. Dan perjuangan atas dasar pola pikir yang benar tadi lah yang akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Keputusan-keputusan yang kita ambil, dan mempengaruhi bahkan membentuk kualitas hidup kita.


Keputusan (181024)

 Yohanes 3:14-15 (TB)  Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.


Ketika orang Israel bersungut-sungut kepada Tuhan melalui musa untuk kesekian kalinya, kali ini mereka bersungut-sungut karna tidak bisa makan roti seperti di Mesir. hanya memakan Manna, makanan hambar dan juga air yang terbatas. Tuhan menyuruh ular-ular tedung memagut mereka, sehingga banyak orang Israel yang meninggal. Kemudian orang Israel itu sadar lalu meminta Musa agar berdoa kepada Tuhan supaya ular-ular itu pergi dari mereka. 


Atas perintah Tuhan, Musa membuat ular tedung tembaga, lalu menaruhnya di atas sebuah tiang, lalu setiap orang Israel yang dipagut ular tedung itu, ketika melihat ular tedung tembaga itu maka ia tetap hidup.


Ketika saya merenungkan cerita perjalanan Israel diatas, saya diingatkan bagian ini ; 

Ketika bangsa Israel dipagut ular yang mematikan itu, apakah sebenarnya Tuhan tidak mampu untuk memulihkan mereka saja tanpa harus melihat ular tedung tembaga yang di taruh di tiang? Jawabannya mampu. Tetapi Tuhan membutuhkan keputusan dan kemudian tindakan iman orang-orang Israel itu untuk melihat ular tembaga itu. Kalau mereka percaya pada apa yang dikatakan Tuhan melalui Musa, tentu saja mereka akan melakukan apa yang Musa suruh kan, yaitu melihat ular tedung tembaga di tiang. Bukan perkara ular tembaga atau bentuk apapun itu, tetapi karna itulah perintah Tuhan. Kalau dipikir-pikir, bisa saja ular tembaga itu diletak ditanah atau di letakin aja di depan mata mereka langsung, tapi Tuhan juga ingin lihat usaha dan tindakan sebagai bukti iman bangsa itu. 


Demikian juga kita, kadangkala kita hanya berdoa berharap sesuatu terjadi seperti apa yang kita harapkan tanpa melakukan sesuatu. Apakah Tuhan mampu menyediakan misalnya bangunan rumah di depan mata kita? Tentu saja bisa!!! Karna Dia Tuhan. Langit dan bumi saja terbentuk hanya lewat ucapanNya saja apalagi hanya bangunan fisik rumah seperti itu saja. Tapi seringkali kita lupa bahwa kita perlu percaya lalu kemudian bertindak untuk melihat jawaban doa itu benar-benar terjadi. 


Kita tidak akan mengalami perubahan terjadi dalam hidup kita, jika tindakan yang kita lakukan masih hal-hal yang sama saja setiap hari. Kita bilang mau mengalami pertumbuhan rohani misalnya, tapi kita tidak mau mengambil tindakan seperti komitmen baca firman Tuhan setiap hari. Kita perlu mengingat setiap keputusan atas tindakan yang kita lakukan pasti membutuhkan "harga" atau tantangannya sendiri. 


Memang tantangan itu akan selalu ada, tapi itulah yang harus kita terobos. Bagaimana kita mengatur waktu kita supaya kita bisa punya waktu khusus untuk membaca Firman Nya. Mungkin kesenangan kita selama ini harus dikorbankan supaya kualitas membaca Firman Tuhan lebih baik atau rutinitas kita akan sedikit berubah karna ada kegiatan yang harus ditambahkan dari yang udah ter-set selama ini. Dan masih banyak hal lain yang mungkin secara perlahan - lahan akhirnya harus di sesuaikan. Dan pasti ada rasa tidak nyaman awalnya, tidak ada patokan waktu yang pasti juga sampai kapan kita bisa nyaman dengan perubahan itu. Tapi yang pasti segala sesuatu yang kita lakukan dengan komitmen dan konsisten membantu kita untuk lebih mudah mencapai goal yang kita inginkan. 


Selanjutnya, dari sisi Musa juga saya belajar, seringkali dari sisi orang yang melayani atau yang memimpin, banyak hal yang sebenarnya kita harapkan dari orang yang kita layani yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Bukan karna sulitnya sesuatu hal itu untuk dilakukan, tapi karna terlalu banyak alasan untuk memulainya. 


Misalnya saja, seseorang yang mungkin selalu punya alasan ketika diajak ibadah atau mulai melakukan sesuatu yang benar. Orang yang Selalu datang mengeluh tapi ketika dikasih saran, tidak mau melakukan dengan berbagai alasan. Tapi kemudian saya sadar, setiap kita diberi kesempatan untuk mengambil keputusan atas hidup kita. seperti orang-orang Israel yang akhirnya tidak meninggal meskipun dipagut ular tedung, ketika mereka memutuskan untuk melihat ular tembaga yang dibuat Musa. setiap orang diberi kehendak bebas dalam mengambil keputusan dalam hidup mereka. Apakah memutuskan untuk percaya lalu melihat ular tedung tembaga atau memilih cara lain. Itu benar-benar keputusan seseorang dalam hidupnya. Bagian Musa adalah melakukan perintah Tuhan saja. Yaitu membuat ular tembaga dan kemudian meletakkannya pada sebuah tiang. Cukup!!


Seperti Firman Tuhan diatas ; "Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal"


Bagian kita adalah meninggikan Tuhan dalam hidup kita, berdoa bagi mereka orang-orang yang Tuhan taruh di sekeliling kita. Alih-alih memaksa mereka melakukan hal yang kita pikir "seharusnya dilakukan", tapi kita belajar "mengikhlaskan" mereka berproses dalam hidup mereka, sementara kita juga melakukan bagian kita untuk mereka. Tuhan punya caranya sendiri untuk menyatakan diriNya bagi setiap orang. Bukan artinya mengikhlaskan mereka untuk kemudian tidak menerima anugerah keselamatan itu, tetapi disisi lain harus juga menyadari bahwa setiap orang punya keputusan dalam hidup.kesadaran ini penting, supaya kita tidak tertekan dengan keputusan mereka yang di layani. Dan keputusan ku.. meninggikan Tuhan Yesus melalui hidupku