Minggu, 30 Maret 2025

Survival mode vs Striving mode (130824)

Filipi 1:27 (TB)  Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, 


Lukas 13:24 (TB)  Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. 



Pada dasarnya semua manusia dikaruniai naluri untuk bertahan hidup. Bagaimanapun sulitnya, manusia itu akan bertindak sendiri untuk mencapai Batas "aman" nya. Contohnya ketika keadaan terdesak saat seseorang diancam bahaya, misalnya dirampok. Maka otak seseorang tersebut akan menggerakkan seluruh badan menghasilkan refleks mempertahankan diri, kalaupun tidak memberikan perlawanan, minimal refleks yang timbul adalah menghindar. Dan itu kita lakukan seringkali sebelum otak kita berproses secara sadar, itulah yang disebut naluri untuk bertahan hidup. 

Contoh lain yang jauh lebih sederhana dari itu adalah sistem refleks organ tubuh kita , ketika debu masuk ke mata, refleks yang yang dihasilkan adalah, kelopak mata menutup. Dan kalau debu udah terlanjur masuk, maka air mata akan keluar untuk melumasi bola mata, mendorong debu keluar dari mata kita. Apakah itu kita lakukan atas kesadaran kita? Tidak bukan!. Itu terjadi begitu saja, sebagai hasil refleks tubuh kita. Begitulah tubuh kita di design oleh Tuhan.


Nahh.. ternyata bagi manusia, hal naluri bertahan hidup ini juga berlaku bukan hanya untuk gangguan fisik, tetapi juga bagi ego nya. Jadi jika seseorang atau sesuatu hal mengganggu kenyamanan ego tersebut, maka akan timbul reaksi spontan yang sepertinya belom sempat di proses di otak terlebih dahulu.

Reaksi atas aksi yang menyangkut ego ini seringkali berupa tindakan seperti "balas dendam" kalau aku dilukai, maka reaksi ku adalah melukai balik atau minimal membuat orang lain merasakan luka seperti apa yang ku alami. Kalau aku diabaikan maka reaksi yang ku lakukan adalah mengabaikan orang tersebut balik. Seolah tidak mau menjadi korban sendirian. 


Begitulah naluri bertahan hidup nya manusia berjalan terus. Jadi, bisa dibayangkan jika aku "merasa" tersakiti oleh si A, maka aku akan membuat si A merasakan hal yang sama. Lalu, si A ketika merasakan "sakit" yang ku timbulkan, dia juga akan melakukan hal yang sama, jadi rasa "sakit" ini seperti mata rantai yang terus berputar tanpa henti. Belum lagi, ketika rasa sakit yang kita terima itu tidak hanya melukai si pembuat luka. Tapi bisa melukai orang lain di sekitar kita sebut saja si B. Si B terkena imbasnya hanya karna dia ada si lingkungan ku, sehari-hari bersamaku, dan melihat "sakit" itu dan kemudian ikut menjadi sakit. kemudian si B transfer ke si C dan seterusnya. Karna bagaimanapun juga emosi itu akan ter-transfer ke orang-orang di sekitar kita entah kita sadar atau gak, entah kita sengaja atau gak. Bayangkan lah kondisi dunia ini akibat naluri bertahan hidup yang dimiliki manusia tersebut. 


Jadi, bagaimana itu bisa berhenti? Itulah pentingnya kasih Tuhan itu dalam hidup kita. Sebagaimana emosi negatif itu bisa menular, demikian juga hal nya energi positif itu. Jika kita hidup dalam kasih Tuhan, demikian juga kasih itu akan ter-transfer bagi orang disekitar kita.


Ketika hidup kita sebagai manusia di lengkapi dengan  mode bertahan hidup atau survival mode, ternyata di dalam Tuhan kita diperlengkapi dengan mode berjuang atau striving mode. Di dalam Tuhan kita tidak hanya diperlengkapi bagaimana caranya berjuang, tapi juga kekuatan untuk berjuang. 


Di dalam Tuhan kita menyadari bahwa hidup yang kita hidupi adalah hasil dari penebusan Tuhan. Semakin kita menyadari bahwa hidup kita adalah anugerah, Semakin kita sadar bahwa ego kita seharusnya tidak lagi sesuatu yang perlu di perjuangkan, harga yang melekat dalam diri kita udah lunas dibayar dengan darah Kristus. Jadi kita tidak perlu repot melabeli diri kita dengan harga yang di tetapkan dunia ini. Ga perlu bertekak dengan orang-orang bahkan dengan dunia ini, karna kita dengan sangat yakin dan sadar bahwa harga itu udah Tuhan pastikan lunas dibayar dan yang sudah pasti MAHAL karna ditebus dengan Darah Anak Allah sendiri. 


Itulah yang perlu kita perjuangkan. Memastikan bahwa ego kita bukan sesuatu yang perlu kita bela, atau perjuangkan. Sekalipun dunia mengatakan kita tidak berharga, kita berjuang meyakinkan diri kita sendiri bahwa kata Tuhan hidup kita berharga. Ketika kita merasa diabaikan dan tidak dihargai, kita berjuang meyakinkan diri bahwa sebagai anak Tuhan, kita tidak pernah benar-benar sendiri, karna Roh Tuhan selalu ada dalam kita. Ketika kita merasa tidak dilibatkan, kita perlu berjuang untuk bisa fokus bahwa kita terlibat dalam tugas pekerjaan kerajaan Nya yang mulia. 


Itulah yang terus menerus perlu diperjuangkan supaya hidup kita sepadan dengan apa yang memang Tuhan inginkan. Dan perjuangan atas dasar pola pikir yang benar tadi lah yang akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Keputusan-keputusan yang kita ambil, dan mempengaruhi bahkan membentuk kualitas hidup kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar