Senin, 27 Oktober 2025

Percaya kemudian melihat

"Kau terbesar dan mulia, 

Ajaib semua perbuatanMu"...


Begitulah sepenggal lirik salah satu lagu pujian. Sangat powerfull, sangat meneguhkan. 

Tapi, bagaimana kita memaknainya, bahkan menyanyikannya ketika situasi yang kita alami seolah-olah tidak membuktikan itu?


Suatu kali, sebelum berangkat ibadah, ponakanku bilang kalau beras dirumah sudah habis. Bahkan untuk makan malam hari itu pun sudah tidak ada. Bahkan untuk siang mungkin pas-pasan atau bahkan kurang. Pagi itu, karna udah buru-buru mau berangkat ibadah, aku pesankan ke ponakanku kalau nanti nasinya habis, minta tolong sama saudara aja yang kebetulan rumah nya tidak terlalu jauh dari rumah. Sebelumnya aku udah inisiatif mau pinjam uang untuk beli beras, tapi katanya tidak punya uang. Tapi kalau Sebatas nasi untuk siang itu, pastilah mereka masih punya pikirku. 


Singkatnya, jadilah aku berangkat ibadah pagi itu dengan rancangan akan meminjam uang dari salah satu saudara di gereja, untuk membeli beras hari itu, mungkin untuk sekilo atau dua kilo beras yang penting cukup beberapa hari kedepan, lalu kemudian dipikirkan lagi. Sepanjang ibadah aku terus berfikir perkara beras habis dirumah. Di tengah ibadah, Pujian itu dinyanyikan . "....Kau terbesar dan mulia, ajaib semua perbuatanMu..." 


Saat itu mungkin aku tidak bisa melihat "perbuatan Tuhan yang ajaib" itu. Aku tidak mengalaminya nyatanya aku tau beras dirumah habis, dan aku harus minjam, ga tau kapan bisa balikin pinjaman itu nantinya, Ada satu intimidasi yang bilang dalam hati, "katanya Tuhanmu terbesar dan mulia, tapi masak untuk kebutuhan pokok mu aja Tuhan ga mau sediakan? berarti pujian itu ga valid dong, ngapain di nyanyiin kalo ga valid?

 tapi kemudian ada keyakinan dalam hati yang mendorong kuat untuk terus menyanyikan pujian itu. "... seg'nap hati aku memuji, seg'nap jiwa aku bernyanyi karna RohMu ada dalamku Tuhan..." Ketika pujian itu dinyanyikan berulang-ulang, pujian itu kunyanyikan dengan sepenuh hati bahkan semakin meresap ke hati, semakin diingatkan bagaimana seharusnya belajar percaya dan memperkatakan dengan iman. Bukan karna jalan keluarnya masalahku sudah ditemukan. Tapi belajar percaya aja bahwa Tuhan punya cara-cara Nya sendiri dan ajaib untuk menolong aku dan keluargaku. Selama kami datang berseru sama Tuhan, masakan Tuhan akan biarkan kami sampai kelaparan dan tidak makan? Sangat tidak mungkin. Tiba-tiba ada yang diubahkan dari sudut pandang ku tentang pujian, tentang cara kerja Tuhan dan siapa Tuhan itu sendiri


Selesai ibadah, Seperti biasanya setiap Minggu selalu ada acara makan siang di gereja untuk semua jemaat. Siang itu juga kami makan bersama-sama dan setelah makan siang, semua jemaat pulang satu persatu, tinggal kami berdua beberes ruangan sekretariat gereja yang dipakai makan siang. Sambil beberes, tiba-tiba saudara itu bilang kalau nasi siang itu berlebih banyak. Dan singkat cerita aku disuruh untuk membawa nasinya pulang. Ada kalanya memang ada nasi berlebih atau lauk berlebih, tapi kali ini nasinya berlebih banyak sekali. Rasanya jumlah jemaat yang datang juga tidak sedikit. Jumlah beras yang dimasak juga sama aja seperti Minggu biasanya. Melihat itu aku jadi terdiam. Pada saat itu aku bahkan belom bilang mau pinjam duit. Aku bahkan tidak ingat lagi masalah beras dirumah. Tapi saat itulah Tuhan tunjukkan kalau Tuhan itu ajaib dan besar dan mulia. 


Aku benar-benar terpukau sama caranya Tuhan. Waktu nasi itu dibungkus, aku mau nangis, rasanya aku mau langsung cerita sama pembimbing ku, yang lagi bungkusin nasi itu. tapi rasanya kata-kata untuk menggambarkannya terlalu banyak di kepalaku, sampai aku ga tau mau mulai dari mana. Sampai akhirnya yang keluar hanya ucapan syukur ke Tuhan, ke pembimbingku aku bilang: "nanti satu saat aku akan cerita tentang ini ke kakak" dengan mata berkaca-kaca, dadaku penuh rasanya.


Sampai di rumah, ponakanku cerita ga jadi minta nasi siang itu, dia makan seadanya nasi yang tersedia, dan nasi yang kubawa cukup sampai besok siang nya. Luar biasanya lagi ,besok harinya salah seorang saudara datang mengantar uang untuk belanja kami. Semua tercukupi!. Ga hanya beras!, sayur dan lauk pauknya Tuhan sediakan

Dan memang ajaib cara-cara Tuhan untuk memenuhi kebutuhan kami, karna setelah kejadian itu, aku mengingat- ingat kembali bagaimana pekerjaan Tuhan sebelumnya. Aku menyadari itu, Tapi kadangkala kekhawatiran diri sendiri membuat aku tidak melihat cara-cara Tuhan yang luar biasa itu bekerja. Tidak sabar untuk menunggu cara Tuhan, dan akhirnya bertindak mengandalkan kekuatan sendiri. Secara mata jasmani mungkin ending nya bisa jadi  sama. Setelah aku pinjam duit, aku kemudian beli beras, Sama-sama kebutuhan nya terpenuhi. tapi yang terlewat adalah, kehilangan kesempatan melihat cara-cara Tuhan yang ajaib itu, kalau aku tidak belajar percaya penuh kepada Tuhan. 


Belajar terus memperkatakan, sekalipun seolah tidak ada jalan keluar. Tapi ketika hal yang benar itu terus diperkatakan sampai pikiranku, hatiku bahkan seluruh nya aku mempercayai itu, maka hal itu akan diberikan kepadaku

Markus 11:24 (TB)  Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.


Jumat, 17 Oktober 2025

Bertumbuh tanpa sesal |171025

Aku tau, kamu tidak jahat

Dan kupastikan aku juga bukan orang jahat

Kita masing² hanya sedang bertumbuh

Lalu kemudian masuk ke fase hidup yang baru

Yang kita sendiri memang tidak paham sebelumnya


Jangankan menerjemahkannya agar kau mengerti. 

Aku sendiripun tak paham. 

Jadi, ga mengapa kalau hari ini gak ngerti

Tak perlu buru-buru memberi nama pada fase ini

Cukup nikmati saja proses tumbuhnya

Supaya kita tumbuh jadi yang semestinya

Tidak ada proses yang terlalu dipaksakan

Jadi manusia yang otentik, bukan karbitan

Maknai setiap waktu, 

Supaya kelak tidak ada yang disesali. 


Kalau saat ini terasa harus berjarak, 

Tak mengapa, setidaknya tidak saling menyakiti

Bertindak dengan kesadaran penuh

Kemudian meninggalkan fase ini kelak dengan hati penuh. 

Tak perlu menyalahkan siapapun. 

Karna memang semua orang harus bertumbuh. 

Kau tak bodoh, kalau hari ini belum mengerti

Memang mungkin harus demikian adanya. 




Kumpulan puisi untuk novel

#1
Aku menggenggaaam masa lalu
Meremuknya dengan sisa emosi yang kupunya
Namun tak pernah aku mampu memusnahkannya
Walau berkali2 telah kucoba
Percayalah aku mencobanya berulang-ulang 

#2
Aku mengenal mu sampai ke hati
Ku rasa kau pun begitu
Hanya denganmu, Segala cerita bisa ku bagi
Kau tau, itu yang membuatku membutuhkanmu
Tapi kurasa beda hari ini
Kenapa bibirku seolah tak mampu
Tubuhku seolah meriang berbicara dalam imajinasi
Dengarlah sahabat sekali saja ku teriakkan tanpa ragu
Aku mencintaimu kini dan nanti




#3

Dulu sekali rindu menjadi mantra yang berjiwa bagi kita
Terngiang jelas bagaimana kau mengejanya di telingaku
Menjadi senandung yang kerap mengantarku tidur
bayangan skenario indah yang mengukir tawa dalam mimpi

Kini semuanya jadi hambar
Seolah2 mantra itu tak pernah kita ucap
Bagaimana mungkin dia mengantarku tidur lalu tertawa??
Kalau nyatanya dia hanya sekedar kata tanpa makna??

Tidakkk...
Tidak ada yang salah dalam rindu kita
Kita hanya berada dalam titian waktu yang berbeda
Nyatanya kau hanya tidak lagi berkawan pada irama yang ku nikmati
Aku tidak lagi bercerita tentang warna-warna yang menemaniku
Dan kau merasa cukup ketika kau tau siapa aku dulu. Tapi tidak dengan diriku yang sekarang

Kini aku kembali, tapi rasanya tak lagi sama
Memulai lagi dengan orang asing yang dulu rindunya selalu kutunggu.
Berjabat tangan dengan kenangan yang sebentar akan kita ukir.
Akan ku ajak kau berkawan dengan warna irama yang kunikmati dulu
menertawakan mimpi yang dulu ada dalam tidurku.
Dan lalu memeluk rindu yang sekarang tak lagi mempesona.

#4

Malam ini aku merindumu lagi
Segala nada seolah menarikku ke dalam kenangan kita
Setiap syair di Bait lagu seolah bercerita tentang kita
Ingin rasanya mengajakmu sekedar menertawakan dunia ini
Seperti dulu kita menakhlukkannya

Kutuliskan namamu, namun tak pernah ku sebut lagi
Kini Aku sadar kita tak lagi sepaham
Mungkin kau bukan lagi dia yang ku rindukan
Kurasa aku mulai lelah, aku menyerah
Biarlah sejenak aku memberi jarak
Untuk akhirnya melupakan segala sesuatu yang kusebut rindu.

#5
Aku takut merindu
Terlalu takut hingga menyesak
Aku benci rasanya waktu yang membentuknya
Haruskah aku tak mencinta untuk mengabaikannya??
Lalu aku putuskan dibenci saja sebelum rindu itu datang
Maaf aku tak bermaksud tak memberimu ruang
Aku hanya tak siap jika rindu harus mengganggu.
Walau aku hanya tidak menyadarinya.
Aku tak sengaja
Bicaralah kepadaku seperti seorang gila
Biar kau tau, ketakutanku karna rasa yang berjuta


#6

Terlambat kusadari jika kau adalah cinta
Terlalu naif waktuku berlalu denganmu selama ini
Meninggalkanmu untuk mengejar dia yang kuanggap cinta
Kau yang kini telah sembuh
Cintamu yang dulu telah luruh
Hampir tak berjejak

Semantara aku...
disini aku mengerang merindukan rasa
Mencoba melepasnya, tapi enggan melupakan
Terlalu lekat indahnya masalaluku
Tapi itu hanya jika denganmu
Yang kini telah melepasku

Tak bisa kutahan langkahmu kini
Terlalu jauh kau pergi,
terlalu mudah mungkin bagimu mengiklaskanku
Tak ingin aku sakitimu lagi
Biar bahagiamu kini jadi bagianku
Akan ku coba menikmati bayangan cinta dari belakangmu.

Rev#3des18



Aku rindu
Adakah kau tau?? Atau sekedar peduli??
Kata2 saja seakan tak cukup menebusnya
Ada jarak yang kini memisahkan raga kita
Tapi,seandainya pun tidak.. Rasapun kini sudah berbeda
Rinduku hanya akan menjadi tanda tanpa makna bagimu
Tak seperti rinduku yang dulu mampu memanggilmu
Kini mengucap nya pun seolah aku tak mampu
Aku takut rinduku tak berbalas
Lalu kemudian berbalik menghancurkanku




Aku berjuang melawan perihku
Aku belajar tidak menyalahkan semesta
Mengapa dia mengkotakkan rasa yang kupunya
Yakinku memisahkan inginku untuk bersamamu
Apakah ini adil??
Haruskah aku menunggu sampai semesta balik mendukung
Atau kubiarkan saja yakinku menjadi sekedar isyarat
Atau inginku hanyalah sekedar rasa yang akan berujung
Seperti tepian pantai yang terkikis dan akhirnya hilang
Sementara waktu berjalan terus
Tanpa kutau kemana dia akan membawaku


Selasa, 17 Juni 2025

Seperti Rusa Yang Haus |030423

 Gaes, ga tau kalian pernah dengar tentang ini atau gak sebelumnya


Kami baru cerita-cerita sama mama dirumah tentang rusa, mama cerita bahwa kalau waktu terbaik untuk memburu rusa adalah pada saat dia minum. Tau ga kenapa?? Karna rusa itu bukan hewan yang sembarang minum. Dia bisa menahan haus sampai menemukan sumber air terbaik menurutnya. Jadi,pada saat rusa haus berat dan minum, rusa seolah-olah ga peduli sama apa yang terjadi di sekitarnya. Jadi rusa bisa ditembak lebih mudah 


Padahal sebenarnya rusa termasuk hewan yang paling susah diburu, karna faktanya kemampuan pendengaran rusa jauh lebih baik dari pendengaran manusia. Telinga rusa juga bisa menangkap frekuensi-frekuensi suara yang ga mampu di dengar manusia. Dan juga fakta bahwa Penglihatan mereka tajam, karena posisi mata mereka memungkinkan mereka bisa melihat sampai 310°. Hewan inipun di anugerahi penciuman yang tajam, sehingga mereka bisa mencium makanan dari jarak yang cukup jauh, dan sekaligus sebagai alat komunikasi satu sama lain. Apalagi mereka bisa bergerak dan melompat dengan cepat untuk menghindari bahaya.


Lalu sejenak aku berfikir, mungkin itu sebabnya pe-mazmur mengumpamakan rusa yang haus dalam mazmur nya dan bukan hewan lain. Rusa Bukan hanya sekedar memuaskan dahaganya ketika rusa itu minum, tapi dia bisa melupakan apapun yang ada di sekitarnya, bahkan termasuk melupakan nyawanya sendiri dan fokus pada air di hadapannya. 


Kebayang ga, kalau kita saking hausnya sama Tuhan, kita ga lagi memikirkan apapun yang ada di sekitar kita, melupakan keinginan, melupakan hasrat atau ambisi kita, melupakan ketakutan dan kecemasan kita pada hal-hal yang selama ini mungkin kita fikir bisa merusak apa yang sudah kita miliki saat ini Namun Hanya berfokus pada sumber air kehidupan itu sendiri. 


Pengen ga sih gaess berada di posisi rusa yang haus itu?? 


*Lagi merenung aja 😁😁😁

Kamis, 08 Mei 2025

Dear me...

 Hai diriku...

Maaf kalau terlalu lama aku mengabaikan kebahagiaan kecil yang kau minta

Berhenti sejenak melihat jingga matahari pagi, katamu suatu kali

Lihatlah hijaunya rumput dibawah birunya langit,

Atau bentuk air sehabis hujan, yang penuh di ujung daun dan hampir jatuh ke tanah

Atau berimajinasi tentang bentuk awan yang selama ini bisa menarik ku sesaat dari hiruk pikuknya semesta ini,

"nanti..." Kataku tanpa menyadari kalau "nanti" itu ternyata tidak memiliki batas

Dan akhirnya kau terdiam, tak lagi meminta. Bukan karna tak lagi butuh. Tapi akhirnya terbiasa tanpanya.

Aku terus berlari tanpa ku tau apa yang ku kejar

Terburu-buru tanpa tau siapa yang mengejar.

Sampai ku sadari sudah terlalu banyak kesempatan untuk menikmati kebahagiaan kecil itu yang terlewat

Aku lelah kataku sesaat kemudian,  kepalaku berpeluh, batinku sesak, ragaku seolah kehilangan kendalinya

Rasanya bahkan tak sanggup lagi aku mencari sandaran untuk sejenak rehat. Antara tak sanggup atau tak lagi tau tempatnya.

Aku kehilangan pegangan ku.

Yang tersisa hanya  ingatan akan kebahagiaan kecil yang pernah kau minta.


Sabtu, 26 April 2025

Be still

 Hakim-Hakim 7:21 (FAYH)  Sementara itu mereka berdiri saja dan memperhatikan apa yang terjadi. Seluruh bala tentara musuh yang sangat besar itu menjadi kalut. Prajurit-prajurit Midian itu berteriak-teriak dan lari ke sana ke mari.


Ayat diatas menceritakan kejadian ketika pasukan Israel dengan kekuatan 300 orang dipimpin oleh Gideon, menyerang pasukan bangsa Midian.  sementara pasukan Midian digambarkan seperti belalang saking banyaknya. Jika dilihat dengan logika, pastilah bangsa Israel akan kalah, tapi ketika Tuhan yang bertindak, hal yang diluar logika manusia bisa terjadi. bangsa Midian yang jumlah nya tidak sebanding dengan bangsa Israel itu tiba-tiba saling bunuh membunuh satu sama lain karna terkejut melihat obor bangsa Israel yang dinyalakan tiba-tiba. Selebihnya bangsa Israel tinggal melihat saja. Dan singkat cerita, bangsa Israel bisa mengalahkan orang Midian dan orang Amalek itu.

 

Kadangkala yang Tuhan mau dari kita itu adalah "diam" alias tidak melakukan apa-apa. Yapp...kadang kita sibuk berusaha melakukan ini dan itu, menganggap dengan melakukan banyak hal, kita membuktikan bahwa kita berbuat sesuatu untuk Tuhan. 

Tapi seringkali kita menjadi abai pada apa yang sebenarnya yang Tuhan mau. 

Kalau kita mau sedikit saja lebih dengar-dengaran sama yang Tuhan mau, Tuhan kadangkala hanya pengen kita duduk diam dan mendengarkan Dia.  

Buat apa? 

Terserah Tuhan

Karna Tuhan mau demikian

Terlalu dangkal pemikiran kita untuk bisa menjangkau pemikiran Tuhan. Bagaimana jika yang Tuhan mau adalah proses pembentukan hati dan karakter kita? Dan Bukan proses pembentukan otot atau ketrampilan kita.

Di tengah hiruk-pikuk sekalipun, kalau Tuhan mau kita "berdiam" saja, yoklahh...manut aja.

Jumat, 18 April 2025

Embrace|| Emosi part 1 dan 2

 Ketika Tuhan bilang ; jangan takut, jangan kuatir, jangan gelisah hatimu,....

Tidak berarti bahwa Tuhan akan membenciku ketika aku merasakan emosi itu


Tapi berarti bahwa.. : " seharusnya kamu tak perlu merasakannya, karna Aku ada!, I Will help you through, and never leave you behind. What you face became mine too" 


Jadi, ketika ada dalam kondisi itu, yang perlu aku lakukan adalah : datang sama Tuhan, akui apa yang aku rasakan, dan tanya Tuhan apa yang akan dilakukan selanjutnya. 


Jangan denial sama emosi itu, jangan menolaknya, tapi akui saja. Embrace it, karna itu akan membantu kita memilah2 emosi yang ada, dan bagaimana mengelolanya.


Part 2

Jika emosi itu anugrah dari Tuhan, maka dia tidak akan membawamu pada kehancuran. Jika itu yang terjadi, maka bisa dipastikan bukan emosi nya yang salah, tapi cara pengelolaan emosi tersebut. Yaa..cara pengelolaannya. Emosi itu harus dikelola dikembangkan, di multiplikasi. bukan di diemin aja, atau bahkan dikubur. Begitulah cara menghargai anugrah itu seharusnya.

Ragu (040423)

 -Ragu-

Maaf atas keraguanku

Maaf atas ketidak percayaan ku

Maaf masih saja gelisah, sekalipun udah melihat bukti

Satu bukti seolah tak cukup

Bahkan dua pun rasanya kurang

Selalu ku minta ketentraman hati, tapi tak kunjung tenang

Tolong jangan pergi

Tolong jangan menyerah 

Mungkin sedikit lagi

Aku akan berjuang, meskipun rasanya masih sama

Meskipun tiap langkah rasanya berat

Tiap gerak rasanya salah

Tapi biar aku terus berpindah dengan harapan yang baru tiap hari


Ibadah (040423)

 Kalau Tuhan minta kamu untuk beribadah, semata-mata untuk dirimu sendiri. Supaya kamu mengalami hal-hal baik di hidupmu. Supaya kamu ngalamin hal-hal luar biasa sepanjang hidupmu, sehingga kamu bersukacita. Dan luar biasanya lagi... Itulah bukti kasih sayangnya bagimu. Tuhan ga pengen kamu susah, Tuhan ga pengen kamu sedih dan menderita sedikitpun di sepanjang hidupmu. Tuhan tau dunia ini ga baik, tapi dari semuanya yang dunia ini bisa lakukan padamu, Tuhan buktikan bahwa kasih sayang nya jauh lebih besar lagi dari semua yang dunia bisa lakukan terhadapmu.

Minggu, 30 Maret 2025

Dewasa

 Kadang kita menuntut orang lain untuk dewasa,

tapi seringkali kita lupa bahwa:

penolakan, perdebatan, ketidak-setujuan, suka mengambil keputusan beresiko, merupakan langkah menuju pendewasaan yang seringkali menjadi hal paling tidak kita setujui untuk mereka lakukan.

Mengasihi

 Intinya

Kita hanya dua orang yang berada di dua kutub yang berjauhan.

Aku tau tak ada niat untuk saling melukai, tapi dengan tetap bertahan di kutub masing-masing membuat kita tak akan pernah sepaham. 

Tapi berusaha untuk menarik yang lain keluar dari kutub nya pun jauh akan lebih menyakitkan. 

Kita mempunyai prioritas yang berbeda

Sudut pandang yang berbeda

Dan cita-cita yang berbeda

Lalu apalagi yang seharusnya kulakukan?? Selain menjauh dan meyakinkan diri bahwa selamanya bagi kita akan sangat menyiksa.


Tapi entah kenapa, rasanya masih banyak isi hati dan kepala ini yang ingin di tumpahkan

Tapi sekali lagi, berakhir dengan sakit hati 

Sudahlah, sekarang akan ku pastikan aku pergi tanpa rasa bersalah

Dan bukan juga karna kalah

Hanya karna se-sederhana menyadari bahwa, tak semua manusia harus hidup berdampingan.

Tak semua harus bisa sepaham dan saling mengerti

Tapi satu yang pasti, semua harus saling mengasihi. Entah siapapun dia

Apapun alasannya

Apapun caranya

Termasuk dengan cara meninggalkannya

Karna aku mengasihinya

Survival mode vs Striving mode (130824)

Filipi 1:27 (TB)  Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, 


Lukas 13:24 (TB)  Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: "Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. 



Pada dasarnya semua manusia dikaruniai naluri untuk bertahan hidup. Bagaimanapun sulitnya, manusia itu akan bertindak sendiri untuk mencapai Batas "aman" nya. Contohnya ketika keadaan terdesak saat seseorang diancam bahaya, misalnya dirampok. Maka otak seseorang tersebut akan menggerakkan seluruh badan menghasilkan refleks mempertahankan diri, kalaupun tidak memberikan perlawanan, minimal refleks yang timbul adalah menghindar. Dan itu kita lakukan seringkali sebelum otak kita berproses secara sadar, itulah yang disebut naluri untuk bertahan hidup. 

Contoh lain yang jauh lebih sederhana dari itu adalah sistem refleks organ tubuh kita , ketika debu masuk ke mata, refleks yang yang dihasilkan adalah, kelopak mata menutup. Dan kalau debu udah terlanjur masuk, maka air mata akan keluar untuk melumasi bola mata, mendorong debu keluar dari mata kita. Apakah itu kita lakukan atas kesadaran kita? Tidak bukan!. Itu terjadi begitu saja, sebagai hasil refleks tubuh kita. Begitulah tubuh kita di design oleh Tuhan.


Nahh.. ternyata bagi manusia, hal naluri bertahan hidup ini juga berlaku bukan hanya untuk gangguan fisik, tetapi juga bagi ego nya. Jadi jika seseorang atau sesuatu hal mengganggu kenyamanan ego tersebut, maka akan timbul reaksi spontan yang sepertinya belom sempat di proses di otak terlebih dahulu.

Reaksi atas aksi yang menyangkut ego ini seringkali berupa tindakan seperti "balas dendam" kalau aku dilukai, maka reaksi ku adalah melukai balik atau minimal membuat orang lain merasakan luka seperti apa yang ku alami. Kalau aku diabaikan maka reaksi yang ku lakukan adalah mengabaikan orang tersebut balik. Seolah tidak mau menjadi korban sendirian. 


Begitulah naluri bertahan hidup nya manusia berjalan terus. Jadi, bisa dibayangkan jika aku "merasa" tersakiti oleh si A, maka aku akan membuat si A merasakan hal yang sama. Lalu, si A ketika merasakan "sakit" yang ku timbulkan, dia juga akan melakukan hal yang sama, jadi rasa "sakit" ini seperti mata rantai yang terus berputar tanpa henti. Belum lagi, ketika rasa sakit yang kita terima itu tidak hanya melukai si pembuat luka. Tapi bisa melukai orang lain di sekitar kita sebut saja si B. Si B terkena imbasnya hanya karna dia ada si lingkungan ku, sehari-hari bersamaku, dan melihat "sakit" itu dan kemudian ikut menjadi sakit. kemudian si B transfer ke si C dan seterusnya. Karna bagaimanapun juga emosi itu akan ter-transfer ke orang-orang di sekitar kita entah kita sadar atau gak, entah kita sengaja atau gak. Bayangkan lah kondisi dunia ini akibat naluri bertahan hidup yang dimiliki manusia tersebut. 


Jadi, bagaimana itu bisa berhenti? Itulah pentingnya kasih Tuhan itu dalam hidup kita. Sebagaimana emosi negatif itu bisa menular, demikian juga hal nya energi positif itu. Jika kita hidup dalam kasih Tuhan, demikian juga kasih itu akan ter-transfer bagi orang disekitar kita.


Ketika hidup kita sebagai manusia di lengkapi dengan  mode bertahan hidup atau survival mode, ternyata di dalam Tuhan kita diperlengkapi dengan mode berjuang atau striving mode. Di dalam Tuhan kita tidak hanya diperlengkapi bagaimana caranya berjuang, tapi juga kekuatan untuk berjuang. 


Di dalam Tuhan kita menyadari bahwa hidup yang kita hidupi adalah hasil dari penebusan Tuhan. Semakin kita menyadari bahwa hidup kita adalah anugerah, Semakin kita sadar bahwa ego kita seharusnya tidak lagi sesuatu yang perlu di perjuangkan, harga yang melekat dalam diri kita udah lunas dibayar dengan darah Kristus. Jadi kita tidak perlu repot melabeli diri kita dengan harga yang di tetapkan dunia ini. Ga perlu bertekak dengan orang-orang bahkan dengan dunia ini, karna kita dengan sangat yakin dan sadar bahwa harga itu udah Tuhan pastikan lunas dibayar dan yang sudah pasti MAHAL karna ditebus dengan Darah Anak Allah sendiri. 


Itulah yang perlu kita perjuangkan. Memastikan bahwa ego kita bukan sesuatu yang perlu kita bela, atau perjuangkan. Sekalipun dunia mengatakan kita tidak berharga, kita berjuang meyakinkan diri kita sendiri bahwa kata Tuhan hidup kita berharga. Ketika kita merasa diabaikan dan tidak dihargai, kita berjuang meyakinkan diri bahwa sebagai anak Tuhan, kita tidak pernah benar-benar sendiri, karna Roh Tuhan selalu ada dalam kita. Ketika kita merasa tidak dilibatkan, kita perlu berjuang untuk bisa fokus bahwa kita terlibat dalam tugas pekerjaan kerajaan Nya yang mulia. 


Itulah yang terus menerus perlu diperjuangkan supaya hidup kita sepadan dengan apa yang memang Tuhan inginkan. Dan perjuangan atas dasar pola pikir yang benar tadi lah yang akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Keputusan-keputusan yang kita ambil, dan mempengaruhi bahkan membentuk kualitas hidup kita.


Keputusan (181024)

 Yohanes 3:14-15 (TB)  Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.


Ketika orang Israel bersungut-sungut kepada Tuhan melalui musa untuk kesekian kalinya, kali ini mereka bersungut-sungut karna tidak bisa makan roti seperti di Mesir. hanya memakan Manna, makanan hambar dan juga air yang terbatas. Tuhan menyuruh ular-ular tedung memagut mereka, sehingga banyak orang Israel yang meninggal. Kemudian orang Israel itu sadar lalu meminta Musa agar berdoa kepada Tuhan supaya ular-ular itu pergi dari mereka. 


Atas perintah Tuhan, Musa membuat ular tedung tembaga, lalu menaruhnya di atas sebuah tiang, lalu setiap orang Israel yang dipagut ular tedung itu, ketika melihat ular tedung tembaga itu maka ia tetap hidup.


Ketika saya merenungkan cerita perjalanan Israel diatas, saya diingatkan bagian ini ; 

Ketika bangsa Israel dipagut ular yang mematikan itu, apakah sebenarnya Tuhan tidak mampu untuk memulihkan mereka saja tanpa harus melihat ular tedung tembaga yang di taruh di tiang? Jawabannya mampu. Tetapi Tuhan membutuhkan keputusan dan kemudian tindakan iman orang-orang Israel itu untuk melihat ular tembaga itu. Kalau mereka percaya pada apa yang dikatakan Tuhan melalui Musa, tentu saja mereka akan melakukan apa yang Musa suruh kan, yaitu melihat ular tedung tembaga di tiang. Bukan perkara ular tembaga atau bentuk apapun itu, tetapi karna itulah perintah Tuhan. Kalau dipikir-pikir, bisa saja ular tembaga itu diletak ditanah atau di letakin aja di depan mata mereka langsung, tapi Tuhan juga ingin lihat usaha dan tindakan sebagai bukti iman bangsa itu. 


Demikian juga kita, kadangkala kita hanya berdoa berharap sesuatu terjadi seperti apa yang kita harapkan tanpa melakukan sesuatu. Apakah Tuhan mampu menyediakan misalnya bangunan rumah di depan mata kita? Tentu saja bisa!!! Karna Dia Tuhan. Langit dan bumi saja terbentuk hanya lewat ucapanNya saja apalagi hanya bangunan fisik rumah seperti itu saja. Tapi seringkali kita lupa bahwa kita perlu percaya lalu kemudian bertindak untuk melihat jawaban doa itu benar-benar terjadi. 


Kita tidak akan mengalami perubahan terjadi dalam hidup kita, jika tindakan yang kita lakukan masih hal-hal yang sama saja setiap hari. Kita bilang mau mengalami pertumbuhan rohani misalnya, tapi kita tidak mau mengambil tindakan seperti komitmen baca firman Tuhan setiap hari. Kita perlu mengingat setiap keputusan atas tindakan yang kita lakukan pasti membutuhkan "harga" atau tantangannya sendiri. 


Memang tantangan itu akan selalu ada, tapi itulah yang harus kita terobos. Bagaimana kita mengatur waktu kita supaya kita bisa punya waktu khusus untuk membaca Firman Nya. Mungkin kesenangan kita selama ini harus dikorbankan supaya kualitas membaca Firman Tuhan lebih baik atau rutinitas kita akan sedikit berubah karna ada kegiatan yang harus ditambahkan dari yang udah ter-set selama ini. Dan masih banyak hal lain yang mungkin secara perlahan - lahan akhirnya harus di sesuaikan. Dan pasti ada rasa tidak nyaman awalnya, tidak ada patokan waktu yang pasti juga sampai kapan kita bisa nyaman dengan perubahan itu. Tapi yang pasti segala sesuatu yang kita lakukan dengan komitmen dan konsisten membantu kita untuk lebih mudah mencapai goal yang kita inginkan. 


Selanjutnya, dari sisi Musa juga saya belajar, seringkali dari sisi orang yang melayani atau yang memimpin, banyak hal yang sebenarnya kita harapkan dari orang yang kita layani yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Bukan karna sulitnya sesuatu hal itu untuk dilakukan, tapi karna terlalu banyak alasan untuk memulainya. 


Misalnya saja, seseorang yang mungkin selalu punya alasan ketika diajak ibadah atau mulai melakukan sesuatu yang benar. Orang yang Selalu datang mengeluh tapi ketika dikasih saran, tidak mau melakukan dengan berbagai alasan. Tapi kemudian saya sadar, setiap kita diberi kesempatan untuk mengambil keputusan atas hidup kita. seperti orang-orang Israel yang akhirnya tidak meninggal meskipun dipagut ular tedung, ketika mereka memutuskan untuk melihat ular tembaga yang dibuat Musa. setiap orang diberi kehendak bebas dalam mengambil keputusan dalam hidup mereka. Apakah memutuskan untuk percaya lalu melihat ular tedung tembaga atau memilih cara lain. Itu benar-benar keputusan seseorang dalam hidupnya. Bagian Musa adalah melakukan perintah Tuhan saja. Yaitu membuat ular tembaga dan kemudian meletakkannya pada sebuah tiang. Cukup!!


Seperti Firman Tuhan diatas ; "Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal"


Bagian kita adalah meninggikan Tuhan dalam hidup kita, berdoa bagi mereka orang-orang yang Tuhan taruh di sekeliling kita. Alih-alih memaksa mereka melakukan hal yang kita pikir "seharusnya dilakukan", tapi kita belajar "mengikhlaskan" mereka berproses dalam hidup mereka, sementara kita juga melakukan bagian kita untuk mereka. Tuhan punya caranya sendiri untuk menyatakan diriNya bagi setiap orang. Bukan artinya mengikhlaskan mereka untuk kemudian tidak menerima anugerah keselamatan itu, tetapi disisi lain harus juga menyadari bahwa setiap orang punya keputusan dalam hidup.kesadaran ini penting, supaya kita tidak tertekan dengan keputusan mereka yang di layani. Dan keputusan ku.. meninggikan Tuhan Yesus melalui hidupku

Selasa, 14 Januari 2025

Kalibrasi ulang

 Pernah perhatikan tulisan di mesin pom bensin ada tulisan "di tera ulang oleh badan xxx , Tanggal xxxx" . Biasanya juga kita bisa temui di beberapa alat ukur di perusahaan tempat kita bekerja, seperti caliper, timbangan, neraca, alat ukur digital dan masih banyak alat ukur lainnya. biasanya alat-alat ini di beri label khusus yang berisi informasi tanggal di kalibrasi, tanggal kalibrasi berikutnya dan dikalibrasi oleh siapa. Yang melakukan kalibrasi juga biasanya bukan sembarang orang, biasanya orang-orang yang sudah di training khusus untuk melakukannya, dan memang kompeten di bidang itu, jadi biasanya nama-nama yang tertera di label juga adalah nama-nama tertentu saja, atau bahkan orang-orang itu aja.

 Biasanya juga alat-alat ini akan di kalibrasi ulang secara berkala dan terus menerus untuk memastikan bahwa alat ukur tersebut masih berfungsi dengan baik dan memastikan hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar nasional atau standar internasional dan manfaat lainnya adalah untuk menemukan apakah ada deviasi atau penyimpangan nilai yang dihasilkan oleh alat ukur tersebut .  

Mengapa perlu dipastikan? Bayangkan saja dalam sebuah mesin misalnya, penyimpangan 1 atau 2 mm aja bisa mengakibatkan tabrakan di mesin yang bergerak, atau kemiringan dalam bangunan bisa mempengaruhi kokoh nya bangunan itu. Contohnya lagi, perlu perhitungan berat yang benar supaya bisa membangun pondasi yang kokoh, dan masih banyak contoh lain nya. Oleh sebab itu alat ukurnya juga harus dipastikan menghasilkan nilai yang benar supaya produk yang dihasilkan juga benar dan dapat di gunakan dengan baik pula.

Demikian juga dengan hidup kita. Seringkali tanpa kita sadari, ada nilai-nilai yang lambat laun menyimpang dalam kehidupan kita, yang kalau kita biarkan nilai itu lambat laun makin besar. Kita menjadi terbiasa melakukan hal yang ga bener tanpa kita merasa bersalah melakukannya. Oleh karena itu, kita pun perlu dikalibrasi oleh Firman Tuhan dan orang-orang yang benar-benar menghidupi Firman Tuhan itu. 

Karna kalau tidak, akan banyak hal-hal produk yang tidak benar yang keluar dari hidup kita. Contohnya, mungkin perkataan kita yang akan menyakiti orang disekitar kita, dan bisa jadi mempengaruhi sepanjang hidup orang tersebut. Atau bisa jadi karna produk yang tidak benar itu, waktu-waktu dalam hidup kita tidak terpakai dengan efisien, mungkin karna kita kebanyakan memikirkan hal-hal yang membuat kita kuatir, sehingga kita takut melangkah kedepan dan akhirnya tetap jalan di tempat. Atau tindakan kita melukai orang lain karna pandangan kita yang tidak benar, dan masih banyak contoh lainnya yang akan mempengaruhi orang lain atau diri kita sendiri.

Dalam hidup kita, penyimpangan itu berkemungkinan terjadi setiap saat. Jadi kalibrasinya pun dibutuhkan setiap saat karna kalau tidak, akan terlalu banyak "produk" yang ga bener tadi yang kita lakukan setiap hari. Jadi, saya semakin menyadari arti firman Tuhan di Ibrani 10:25 (TB)  Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat. 

Karena melalui pertemuan-pertemuan ibadah ini, sebenarnya menjadi salah satu cara kita bisa di kalibrasi ulang. Mengingatkan kita sejauh apa kita sudah melangkah, apakah yang kita lakukan masih di jalan yang bener atau sudah ada penyimpangan. Semakin kita sering memberi diri kita di kalibrasi, maka semakin hal-hal yang bener lah yang keluar dari dalam hidup kita. Pertemuan ibadah bisa jadi ibadah di Gereja, komsel, kelompok pemuridan, doa bersama, bahkan pertemuan dengan orang-orang yang hidupnya lebih rohani dari kita yang bisa meng-kalibrasi hidup kita. Yang bisa mendorong bahkan mengingatkan kita atas kekeliruan kita.

Ayub 34:31-32 (TB) Tetapi kalau seseorang berkata kepada Allah: Aku telah menyombongkan diri, tetapi aku tidak akan lagi berbuat jahat; apa yang tidak kumengerti, ajarkanlah kepadaku; jikalau aku telah berbuat curang, maka aku tidak akan berbuat lagi, 

Ayat diatas secara sederhana bisa diartikan sebagai "Tuhan tolong kalibrasi hidupku." Sebagai pengakuan bahwa kelemahan kita untuk mendeteksi apakah kita menyimpang atau tidak, dan sejauh apa kita sudah menyimpang. Dan pengakuan kita bahwa ada Pribadi yang berhak dan mampu untuk meng-kalibrasi ulang hidup kita ini. Bagaimanapun kebenaran itu adalah satu namun kemampuan kita untuk melakukan dan memahami nya membuat seolah-olah kebenaran itu banyak dan bisa di tawar. Sekarang pertanyaannya, apakah kita mau memberi hidup kita senantiasa di kalibrasi oleh kebenaran Firman Nya setiap waktu? Dibutuhkan kerendahan hati untuk akhirnya secara sadar berkata " Ya Tuhan ...aku mau."